Tampilkan postingan dengan label Perspektif Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perspektif Islam. Tampilkan semua postingan

Pandangan Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan

Pandangan Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan
Perdebatan Islam dan ilmu pengetahuan mencakup berbagai isu dan memanjang dari para pemimpin politik dan para ahli untuk masyarakat luas. Mengungkap ketegangan selalu hadir antara teori dan praktek, perdebatan ini berlangsung di dua tingkatan: praktis dan intelektual. Pada tingkat praktis, tantangannya adalah menjaga dengan peradaban teknologi zaman kita dan menjembatani kesenjangan antara masyarakat maju dari negara-negara Barat dan Muslim.

Dari Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki modern, dengan Republik Islam Iran dan negara-negara Arab miskin dan kaya, memberdayakan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prioritas utama bagi semua pemerintah di dunia Muslim, meskipun tidak semua berhasil dalam tujuan ini. Tapi itu tidak hanya pemerintah dan birokrat yang berpikir dengan cara ini, masyarakat luas juga terpesona oleh kekuatan dan keajaiban ilmu pengetahuan dan teknologi, yang telah merambah semua aspek kehidupan kita. Dengan kemauan atau kebutuhan, sebagian besar Muslim menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara dibedakan dari seluruh dunia.

Sedangkan aplikasi praktis ilmu bayangan segala sesuatu yang lain, klaim intelektual sekitarnya menimbulkan pertanyaan serius. Sebagai cara sistematis mempelajari alam, ilmu pengetahuan beroperasi dalam kerangka asumsi filosofis yang tumpang tindih dengan teologi dan filsafat. Agama, kosmologi, dan metafisik ide memberikan konteks pembenaran untuk studi ilmiah dari tatanan alam. Ide-ide dan prasangka mungkin tidak selalu secara eksplisit diartikulasikan, tetapi mereka mendasari dasar konseptual dari semua tradisi ilmiah dari klasik ke periode modern.

Bertentangan dengan klaim positivis dan puritan ilmiah, penelitian ilmiah dibentuk oleh situasi dan preferensi sosio-historis. Jauh sebelum publikasi Thomas Kuhn The Structure of Scientific Revolutions pada tahun 1962 dan kritik postmodernis ilmu yang mengikutinya, sejumlah studi - termasuk Edmund Burtt The Foundations of Modern Physical Sciences - mulai menyelidiki ke dalam pengandaian tacit dan eksplisit ilmu alam modern. Tidak peduli seberapa "obyektif" dan tepat mungkin mengklaim sebagai, tidak ada fungsi ilmu dalam kehampaan sosial atau konseptual.

Al-Qur'an sebagai kitab suci Islam, berisi kosmologi yang rumit, membuat referensi rutin ke fenomena alam, dan mohon pembaca untuk merenungkan dunia alam sebagai tanda-tanda Allah (ayat Allah). Hal ini cukup mengatakan bahwa ayat Al-Qur'an juga disebut sebagai ayah, yaitu, menandatangani. Ini berkaitan dengan isu-isu yang juga dipelajari oleh ilmu alam : penciptaan, kehidupan, langit dan bumi, hewan, kausalitas, ketertiban di alam, argumen dari desain, dan hubungan antara perintah alam dan manusia.

Al-Qur'an menyajikan fenomena alam baik sebagai dasar dari tatanan fisik di mana kita hidup dan pekerjaan luar biasa dari Allah sebagai Artisan besar. Dengan memberikan sifat makna religius dan fungsi metafisik dalam rantai besar wujud, ia menawarkan pandangan keagamaan dari alam semesta yang, pada gilirannya, meletakkan dasar untuk filsafat Islam ilmu pengetahuan. Tapi ini bukan hanya filsafat agama ditumpangkan pada entitas material. Sebaliknya, itu adalah gagasan yang terintegrasi dan holistik alam semesta di mana manusia dan alam ditempatkan sebagai pelengkap satu sama lain.

[Pandangan Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan]
Source: oxfordislamicstudies

Bedah Buku Udah Putusin Aja Felix Siauw

Bedah Buku Udah Putusin Aja Felix Siauw
Islamic Inspirator, Felix Siauw, dalam sebuah acara bedah buku di Islamic Book Fair 2013, mengatakan bahwa jika ingin mencari pasangan hidup pastilah mengharapkan yang beriman dan bertakwa, sementara orang yang beriman sudah pasti tidak menempuh jalur pacaran dan tidak akan ditemui lewat jalur pacaran.

“Laki-laki yang taat pada Allah SWT berarti dia beriman, ketika dia beriman maka dia tidak pacaran,” ungkapnya di panggung utama IBF 2013 lalu , Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta.




Orang yang pacaran itu, lanjutnya, adalah orang-orang “buangan” yang tidak lulus seleksi keberanian menghadapi hidup. “Laki-laki yang pacaran itu masuk jurusan buangan, karena jurusan utama adalah nikah, artinya yang pacaran itu karena tidak lolos jurusan nikah,” ujar penulis buku Udah Putusin Aja ini.

Felix juga menjelaskan latar belakang dipilihnya judul buku tersebut, pemilihan ini karena selain merupakan maksiat, orang yang pacaran itu tidak siap nikah maka Udah Putusin Aja.

Menurutnya, beda khitbah dengan pacaran, khitbah itu sudah jelas waktunya. “Sudah ketemu dengan walinya,” jelasnya.

Di akhir acara, ia berpesan agar tidak melanjutkan kemaksiatan dengan pacaran yang hanya berakibat pada kerusakan dan keburukan. “Hati-hati dengan pacaran, udah putusin aja,” pungkasnya di hadapan pengunjung yang memadati tribun dan ruang acara.
Sumber

[Blogger Indonesia - Bedah Buku Udah Putusin Aja Felix Siauw]

Memilih Jodoh Menurut Islam

Memilih Jodoh Menurut Islam adalah keputusan penting yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Didalam Al-Qur'an ditulis yang artinya: "Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian [yakni laki-laki yang belum kawin atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui)". (QS. An-Nuur, No. Surat: 24, Ayat: 32).

Allah menempatkan penekanan khusus pada pentingnya pernikahan dan perannya dalam kehidupan kita. Dan selain itu, ada juga hadist yang mengatakan nikah adalah sunnah rosul. Yang artinya: “Ada empat hal termasuk sunnah para Rosul; 1. Prawiro (malu melanggar), 2. Memakai minyak wangi, 3. Bersiwak/sikat gigi, 4. Menikah”. (HR. Tirmidzi). Selanjutnya, Yang artinya: “Adapun nikah itu sunnahku, barang siapa yang benci terhadap sunnahku maka dia bukanlah dari golonganku”. (HR. Bukhori).

Karena pernikahan dalam Islam adalah begitu penting, perlu untuk mencurahkan waktu yang berkualitas dan pertimbangan dalam memilih orang di mana Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda. Disini akan kami paparkan Bagaimana Memilih Jodoh Menurut Islam.

Nabi bersabda Yang artinya:
Orang perempuan itu dinikahi karena empat hal:

1. Karena Hartanya ( yang banyak sertifikat )
2. Karena Keturunannya ( yang terhormat )
3. Karena Kecantikannya ( yang memikat )
4. Karena Agamanya ( yang ta’at )

Maka pilihlah orang perempuan yang mempunyai agama ( yang ta’at ) bila tidak kamu akan repot mengurusnya”. (HR. Bukhori).

Dari hadist tersebut diatas dapat kita pahami, bahwasannya Memilih Jodoh untuk dijadikan istri atapun suami adalah yang terpenting karena ketaatannya dalam beragama. Dan bagaimana kita dapat melihat ketaatan seseorang? Kalau di lihat secara kasat mata manusia, bisa diperhatikan misalnya dari akhlaqnya yang mulia, berbakti serta hormat kepada kedua orang tuanya, rendah hati dan khusyuk , istiqamah (teguh pendirian), senang berinabah (taubat) dan pemaaf, suka bersilaturahmi, dan masih banyak lagi cabang dari ketaatan itu. Jika akhlak sudah baik maka mustahil berbuat aniaya terhadap orang lain.

[Blogger Indonesia - Memilih Jodoh Menurut Islam]
Tag: Memilih Jodoh, Menurut Islam, laki-laki, perempuan, cowok, cewek, pria, wanita, suami, isteri

Bisnis Online Dalam Perspektif Islam

Bisnis Online Dalam Perspektif Islam. Seperti yang kita ketahui, Islam telah memberikan pedoman dalam setiap aspek di kehidupan kita. Bisnis Online itu juga menjadi pandangan tersendiri dalam hukum syirkah (bisnis) Islam.

Syirkah adalah suatu akad antara dua pihak atau lebih, yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan (An-Nabhani, 1990: 146).


Macam-Macam Syirkah atau bisnis dalam Islam
Menurut An-Nabhani (An-Nabhani, 1990: 148), berdasarkan kajian beliau terhadap berbagai hukum syirkah dan dalil-dalilnya, terdapat lima macam syirkah dalam Islam: yaitu:
(1) syirkah inân
(2) syirkah abdan
(3) syirkah mudhârabah
(4) syirkah wujûh
(5) syirkah mufâwadhah

Lha terus Bisnis Online Dalam Perspektif Islam masuk yang mana?
Ok, sebenarnya Bisnis online didunia Internet itu banyak bentuk dan macamnya, seperti Affiliate, Pay Per Clik, Pay To Review, Jualan links dan lain sebagainya. Saya pribadi memandang kesemuanya itu adalah sah2 saja dalam artian diperbolehkan. Kenapa?

Karena dalam bisnis online tersebut pastilah ada kedua pihak yang saling bekerja sama untuk saling menguntungkan. Dan disini bisa dimasukkan dalm Syirkah mudhârabah yang artinya syirkah (bisnis) antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mâl) (An-Nabhani, 1990: 152).

Ada dua bentuk lain sebagai variasi syirkah mudhârabah. Pertama, dua pihak (misalnya, A dan B) sama-sama memberikan konstribusi modal, sementara pihak ketiga (katakanlah C) memberikan konstribusi kerja saja. Kedua, pihak pertama (misalnya A) memberikan konstribusi modal dan kerja sekaligus, sedangkan pihak kedua (misalnya B) hanya memberikan konstribusi modal, tanpa konstribusi kerja. Kedua bentuk syirkah ini masih tergolong syirkah mudhârabah (An-Nabhani, 1990: 152).

Kebudayaan Ziarah Kubur

Pada awal sejarah Islam, ziarah ke kubur baik laki-laki mapun perempuan dilarang, karena dikhawatirkan dapat menggoncanngkan keimanan orang yang berziarah. Namun ketika iman dan aqidah umat Islam sudah kuat dan mantap, maka ziarah kubur diperbolehkan bahkan dianjurkan agar kita ingat bahwa suatu saat juga akan mati. Disamping itu ziarah kubur juga untuk mendoakan orang tua dan sesepuh yang sudah meninggal. Itu sesuai dengan hadits Rasulullah :
Kebudayaan Ziarah Kubur

Kuntu nahaytukum ‘an ziyarah al-kubr fa zuruha”, artinya: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah”.

Dari pengertian hadits tersebut dapat dipahami secara umum larangan dan anjuran baik bagi laki-laki maupun perempuan bahkan bagi non muslim diperbolehkan dengan syarat tidak memberi salam dan tidak mendoakan, tetapi sekedar mengingatkan diri akan kematian.

Sedangkan tata cara berziarah ialah bagi setiap orang yang memasuki kuburan diperintahkan untuk mengucapkan salam demikian juga tatkala meninggalkan kubur.

Jenis ritual seperti kebudayaan ziarah kubur, disamping dilakukan oleh masyarakat santri tradisional melalui proses menyesuaikan diri dengan teks-teks normatif, dasar legitimasinya juga diperoleh melalui proses menyesuaikan diri dengan nilai-nilai lama yang tertanam di dalam tradisi masyarakat lokal.

Nilai-nilai lama yang hidup di dalam masyarakat dan melandasi kesadarannya untuk melakukan aktivitas ritual kubur tersebut adalah sebuah penghormatan kepada para leluhur sehingga ritual ziarah kubur tersebut terus-menerus dilakukan secara berulangulang.

Sekilas Tentang Poligami

Poligami adalah suatu fenomena yang banyak dipertanyakan oleh banyak wanita masa kini, terutama yang tidak setuju jika orang yang dikasihinya membagi cinta dan kasih sayang kepada wanita lain. Eh, memang siapa sih yang rela melihat suaminya menikah lagi?
Sekilas Tentang Poligami

Ada baiknya kita tinggalkan dulu sejenak masalah suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, dan melihat secara obyektif dan bijak untuk menelusuri kembali cerita yang melatarbelakangi dikeluarkannya ketentuan poligami di dalam agama Islam "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS . An-nisaa' : 2-3)

Ayat ini diturunkan kepada Rasullullah Saw pada waktu usai perang Uhud, dimana Nabi dan pasukannya mengalami kekalahan. Hal ini disebabkan karena kelengahan sebagian ummat yang mengabaikan perintah Rasullullah dan melanggar komando yang diberikan yang mengakibatkan ummat Islam diserang dari belakang oleh pasukan Quraisy. Di perang Uhud ini pula lebih dari 60 ummat muslim terbunuh dan banyak meninggalkan janda-janda serta anak-anak yatim yang ditinggal mati syahid oleh ayah mereka dalam perang tersebut.

Para kritikus Nabi Muhammad Saw di Barat cenderung memandang pembolehan poligami ini sebagai murni sovinisme laki-laki namun kenyataaanya kritikan yang diberikan tersebut lebih banyak fantasi Barat daripada realitas sebenarnya. Namun, terlihat dalam konteks, poligami tidak dirancang untuk memperbaiki kehidupan seks kaum lelaki, itu merupakan sebuah legislasi sosial. Masalah anak yatim telah membebani Rasullullah Saw sejak awal karirnya dan itu diperburuk dengan kematian di Uhud. Orang-orang yang meninggal dunia itu tak hanya meninggalkan istri-istri, tetapi juga anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan dan kerabat-kerabat lain yang memerlukan pelindung baru. Para pelindung baru mereka mungkin tak cermat tentang pengurusan harta benda anak-anak yatim itu.

Saat itu mungkin terjadi kekurangan laki-laki di Arabia dan kelebihan perempuan yang belum menikah, yang seringkali dieksploitasi dengan buruk. Al Qur'an amat berperhatian terhadap persoalan ini dan mengambil jalan poligami sebagai cara penyelesaiannya. Cara ini akan memungkinkan semua perempuan yatim ini menikah dan menekankan bahwa seorang laki-laki hanya dapat beristri lebih dari satu jika dia berjanji untuk mengurus harta mereka dengan adil. Juga ditetapkan bahwa tak diperbolehkan perempuan-perempuan yatim itu dinikahi oleh walinya diluar kehendaknya sendiri, layaknya dia hanya semacam harta yang dapat dipindahkan. Sekali lagi, kita harus melihat peraturan poligami ini dalam konteks.

Di Arabia abad ke-7, ketika laki-laki dapat memiliki istri sebanyak yang dia sukai, pengaturan mengenai empat istri ini merupakan pembatasan, bukan lisensi sebuah opresi baru. Lebih lanjut, Al Qur'an langsung menindaklanjuti ayat yang memberi hak ummat muslim beristri empat dengan kualifikasi yang harus dipertimbangkan dengan serius. Bila laki-laki tak yakin dapat bertindak adil kepada empat istrinya, dia harus tetap monogamis (atau beristri satu).

Hukum muslim / Islam membangun seperti ini : seorang laki-laki harus meluangkan waktu yang sama untuk masing-masing istrinya; selain memperlakukan istri-istrinya secara finansial dan legal sama. Laki-laki tak boleh memiliki sedikitpun rasa pemilihan kepada salah satu, tetapi harus menyayangi mereka sama besarnya. Disepakati dalam dunia Islam bahwa sangat sulit bagi ummat muslim untuk bersikap adil sebagaimana yang disyaratkan oleh Al Qur'an di dalam surat An-Nisaa' ini.

So, hilangkan dulu pikiran negatif ketika mendengar istilah poligami, karena hal tersebut sudah diatur secara jelas dan tegas didalam Al Qur'an sebagaimana firman Allah Swt tersebut di atas dan Allah Swt sebenar-benarnya Maha Mengetahui. Wallahu'alam Bishshowab.

Doa Sebelum Bersetubuh (jima' )

Doa merupakan pengharapan kita kepada Allah SWT. Dimana saat kita mengharapkan sesuatu alangkah baiknya berdoa sebelum melakukan sesuatu, agar diberi kemudahan dan mendapatkan hasil yang terbaik. Doa yang saya bahas disini adalah saat kita akan melakukan hubungan intim dengan istri pastinya :).
Doa Sebelum Bersetubuh (jima' )

Doa Sebelum bersetubuh atau yang di dalam Islam disebut jima', adalah doa agar saat kita bersetubuh dijauhkan dari gangguan setan dan berharap hasil atau anak yang kita harapkan menjadi anak yang sholeh dan pastinya berbakti kepada orang tua.

Doanya sebagai berikut :


Bismillaahi, Alloohumma jannibnaashshaythoona wa jannibishaiythoona maa rijaktanaa

"Dengan Nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkan syaitan agar tidak mengganggu apa (anak) yang Engkau rizkikan kepada kami."

HR.Abu Dawud no,2160, Ibnu Majah no.1918 dan lihatlah shahih Ibnu Majah I/324 dan Aadaabuz Zifaaf fis Sunnah al-Muthahharah hal 93 oleh Syaikh al-Albani.

HR.Al-Bukhari no 141, 3271, 5165, dan 6388, dan Muslim no 1434, dari 'Abbas.
Sabda Nabi "Apabila ditakdirkan mendapatkan anak, maka ia (anak itu) tidak akan diganggu oleh syaitan selama-lamanya."

Dan cuma untuk pengingat saja, Allah Azza wa Jalla juga menyatakan di dalam firman-Nya, bahwa syarat untuk melakukan hubungan badan ialah harus dalam kondisi suci. Kesucian tubuh dari 'penyakit' haid adalah demi mewujudkan seks sehat, sebagaimana firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah. Haid itu adalah kotoran (penyakit).

Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS. al-Baqarah/2: 222).

Rasulullah SAW bersabda: Jika seseorang diantara kamu bersenggama dengan istrinya, hendaklah ia lakukan dengan penuh kesungguhan. Kemudian, kalau ia telah menyelesaikan kebutuhannya sebelum istri mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (kemaluannya), sampai istrinya menemukan kepuasan (HR Abdul Razaq).

Valuta Asing Dalam Pandangan Islam

VALUTA ASING
Yang dimaksud dengan valuta asing adalah mata uang luar negeri seperti dolar Amerika, Poundsterling Inggris, Euro, dollar Australia, Ringgit Malaysia dan sebagainya. Apabila antara negara terjadi perdagangan internasional maka tiap negara membutuhkan valuta asing sebagai alat pembayaran luar negeri yang dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya eksportir Indonesia akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importir Indonesia memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri.


Dengan demikian akan timbul penawaran dan perminataan di bursa valuta asing. setiap negara berwenang penuh menetapkan kurs uangnya masing-masing (kurs adalah perbandingan nilai uangnya terhadap mata uang asing) misalnya 1 dolar Amerika = Rp. 12.000. Namun kurs uang atau perbandingan nilai tukar setiap saat bisa berubah-ubah, tergantung pada kekuatan ekonomi negara masing-masing. Pencatatan kurs uang dan transaksi jual beli valuta asing diselenggarakan di Bursa Valuta Asing. Adanya permintaan dan penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai.



Valuta Asing Dalam Perspektif Islam
Prof. Drs. Masjfuk Zuhdi yang berjudul MASAIL FIQHIYAH; Kapita Selecta Hukum Islam, diperoleh bahwa Forex (Perdagangan Valas) diperbolehkan dalam hukum Islam.Perdagangan valuta asing timbul karena adanya perdagangan barang-barang kebutuhan/komoditi antar negara yang bersifat internasional. Perdagangan (Ekspor-Impor) ini tentu memerlukan alat bayar yaitu UANG yang masing-masing negara mempunyai ketentuan sendiri dan berbeda satu sama lainnya sesuai dengan penawaran dan permintaan diantara negara-negara tersebut sehingga timbul PERBANDINGAN NILAI MATA UANG antar negara.

Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan bahwa jual beli mata uang atau pertukaran mata uang merupakan transaksi jual beli dalam bentuk finansial yang menurutnya mencakup:

1. Pembelian mata uang dengan mata uang yang serupa seperti pertukaran uang kertas danar baru Irak dengan kertas dinar lama.
2. Pertukaran mata uang dengan mata uang asing seperti pertukaran dalar dengan Pound Mesir.
3. Pembelian barang dengan uang tertentu serta pembelian mata uang tersebut dengan mata uang asing seperti membeli pesawat dengan dolar, serta pertukaran dolar dengan dinar Irak dalam suatu kesepakatan.
4. Penjualan barang dengan mata uang, misalnya dengan dolar Australia serta pertukaran dolar dengan dolar Australia.
5. Penjualan promis (surat perjanjian untuk membayar sejumlah uang) dengan mata uang tertentu.
6. Penjualan saham dalam perseroan tertentu dengan mata uang tertentu

Praktek valuta asing hanya terjadi dalam transaksi jual beli, di mana praktek ini diperbolehkan dam Islam berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 275: “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”.

Di samping firman Allah di atas, hadis Rasulullah juga mengatakan bahwa: “Janganlah engkau menjual emas dengan emas, kecuali seimbang,dan jangan pula menjual perak dengan perak kecuali seimbang. Juallah emas dengan perak atau perak dengan emas sesuka kalian”. (HR. Bukhari).

“Nabi melarang menjual perak dengan perak, emas dengan emas, kecuali seimbang. Dan Nabi memerintahkan untuk menjual emas dengann perak sesuka kami, dan menjual perak dengan emas sesuka kami”.

“Kami telah diperintahkan untuk membeli perak dengan emas sesuka kami dan membeli emas dengan perak sesuka kami. Abu Bakrah berkata: beliau (Rasulullah) ditanya oleh seorang laki-laki, lalu beliau menjawab, Harus tunai (cash). Kemudian Abi Bakrah berkata, Demikianlah yang aku dengar”.

Dari beberapa Hadist di atas dipahami bahwa hadist pertama dan kedua merupakan dalil tentang diperbolehkannya valuta asing serta tidak boleh adanya penambahan antara suatu barang yang sejenis (emas dengan emas atau perak dengan perak), karena kelebihan antara dua barang yang sejenis tersebut merupakan riba al-fadl yang jelas-jelas dilarang oleh Islam. Sedangkan hadist ketiga, selain bisa dijadikan dasar diperbolehkannya valuta asing, juga mengisyaratkan bahwa kegiatan jual beli tersebut harus dalam bentuk tunai, yaitu untuk menghindari terjadinya riba nasi’ah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jual beli mata uang (valuta asing) itu harus dilakukan sama-sama tunai serta tidak melebihkan antara suatu barang dengan barang yang lain dalam mata uang yang sejenis. Begitu juga pertukaran antara dua jenis mata uang yang berbeda, hukumnya mubah. Bahkan tidak ada syarat harus sama atau saling melebihkan, namun hanya disyaratkan tunai dan barangnya sama-sama ada.

Referensi :
- An-Nabhani, Taqiyuddin, an-Nizham al-Iqtishadi fi Al-Islam, (Beirut : Darul Ummah), Cetakan VI, 2004
- Syahatah, Husein & Fayyadh, Athiyah, Bursa Efek : Tuntunan Islam dalam Transaksi di Pasar Modal (Adh-Dhawabit Al-Syar'iyah li At-Ta'amul fii Suuq Al-Awraq Al-Maliyah), Penerjemah A. Syakur, (Surabaya : Pustaka Progressif), 2004
- As-Salus, Ali Ahmad, Mausu'ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu'ashirah wa al-Iqtishad al-Islami, (Qatar : Daruts Tsaqafah), 2006
- Hasan, M. Ali, Masail Fiqhiyah : Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga Keuangan, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada), 1996
- Junaedi, Pasar Modal Dalam Pandangan Hukum Islam, (Jakarta : Kalam Mulia), 1990
- As-Sabatin, Yusuf Ahmad Mahmud, Al-Buyu’ Al-Qadimah wa al-Mu’ashirah wa Al-Burshat al-Mahalliyyah wa Ad-Duwaliyyah, (Beirut : Darul Bayariq), 2002
- al-Jawi ,KH. M. Shiddiq, Jual Beli Saham Dalam Pandangan Islam, http://www. The house of Khilafah1924_org, 09 Maret 2008
- Siahaan, Hinsa Pardomuan & Manurung, Adler Haymans, Aktiva Derivatif : Pasar Uang, Pasar Modal, Pasar Komoditi, dan Indeks (Jakarta : Elex Media Komputindo), 2006

Bursa Saham Dalam Perspektif Islam

BURSA SAHAM
Bursa adalah pasar yang di dalamnya berjalan usaha jual beli saham. Berkaitan dengan hasil bumi, juga melibatkan para broker yang menjadi perantara antara penjual dengan pembeli.
Bursa Saham Dalam Perspektif Islam

Saham adalah surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Dalam Keppres RI No. 60 tahun 1988 tentang Pasar Modal, saham didefinisikan sebagai, "surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam KUHD (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang atau Staatbald No. 23 Tahun 1847)". Adapun obligasi (bonds, as-sanadat) adalah bukti pengakuan utang dari perusahaan (emiten) kepada para pemegang obligasi yang bersangkutan.

Bursa Saham Dalam Perspektif Islam
Para ahli fikih kontemporer sepakat, bahwa haram hukumnya memperdagangkan saham di pasar modal dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang haram. Misalnya, perusahaan yang bergerak di bidang produksi minuman keras, bisnis babi dan apa saja yang terkait dengan babi; jasa keuangan konvensional seperti bank dan asuransi; industri hiburan, seperti kasino, perjudian, prostitusi, media porno; dan sebagainya. Dalil yang mengharamkan jual-beli saham perusahaan seperti ini adalah semua dalil yang mengharamkan segala aktivitas tersebut.

Namun, jika saham yang diperdagangkan di pasar modal itu adalah dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha halal (misalnya di bidang transportasi, telekomunikasi, produksi tekstil, dan sebagainya) Syahatah dan Fayyadh berkata, “Menanam saham dalam perusahaan seperti ini adalah boleh secara syar‘i.Dalil yang menunjukkan kebolehannya adalah semua dalil yang menunjukkan bolehnya aktivitas tersebut.

Namun demikian, ada fukaha yang tetap mengharamkan jual-beli saham walaupun dari perusahaan yang bidang usahanya halal. Mereka ini, misalnya, Taqiyuddin an-Nabhani (2004), Yusuf as-Sabatin (Ibid., hlm. 109) dan Ali as-Salus (Mawsû‘ah al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu‘âshirah, hlm. 465). Ketiganya sama-sama menyoroti bentuk badan usaha (PT) yang sesungguhnya tidak islami. Jadi, sebelum melihat bidang usaha perusahaannya, seharusnya yang dilihat lebih dulu adalah bentuk badan usahanya, apakah ia memenuhi syarat sebagai perusahaan islami (syirkah islâmiyah) atau tidak.

Aspek inilah yang nampaknya betul-betul diabaikan oleh sebagian besar ahli fikih dan pakar ekonomi Islam saat ini, terbukti mereka tidak menyinggung sama sekali aspek krusial ini. Perhatian mereka lebih banyak terfokus pada identifikasi bidang usaha (halal/haram), dan berbagai mekanisme transaksi yang ada, seperti transaksi spot (kontan di tempat), transaksi option, transaksi trading on margin, dan sebagainya.

Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa perseroan terbatas (PT, syirkah musahamah) adalah bentuk syirkah yang batil (tidak sah), karena bertentangan dengan hukum-hukum syirkah dalam Islam. Kebatilannya antara lain dikarenakan dalam PT tidak terdapat ijab dan kabul sebagaimana dalam akad syirkah. Yang ada hanyalah transaksi sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan cara membeli saham dari perusahaan atau dari pihak lain di pasar modal, tanpa ada perundingan atau negosiasi apa pun baik dengan pihak perusahaan maupun pesero (investor) lainnya. Tidak adanya ijab kabul dalam PT ini sangatlah fatal, sama fatalnya dengan pasangan laki-laki dan perempuan yang hanya mencatatkan pernikahan di Kantor Catatan Sipil, tanpa adanya ijab dan kabul secara syar’i.

Berkaitan dengan bursa saham, fatwanya adalah bursa saham diperbolehkan sepanjang sesuai dengan prinsip syariah, yaitu:
1. Bebas Bunga
2. Sektor Investasi yang halal
3. Tidak Spekulatif

Transaksi atas saham yang dilarang apabila:
1. Najsy, yaitu melakukan penawaran palsu
2. Bai' al ma'dum, yaitu melakukan penjualan atas barang (efek syariah) yang belum dimiliki (short selling)
3. Insider trading, yaitu memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan
4. Menimbulkan informasi yang menyesatkan
5. Margin trading, yaitu melakukan transaksi atas efek syariah dengan fasilitas pinjaman berbasis bunga atas kewajiban penyelesaian pembelian efek syariah tersebut
6. Ihtikar (penimbunan), yaitu melakukan pembelian atau dan pengumpulan suatu efek syariah untuk menyebabkan perubahan harga efek syariah dengan tujuan mempengaruhi pihak lain.
Dalam satu hadits, Nabi juga berkata bahwa sesungguhnya Allah mencintai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri. Bukan orang yang cuma duduk-duduk saja membeli saham sambil berharap suatu saat dapat capital gain.

Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan hasil keringatnya sendiri” (HR Baihaqi)

Bahkan Rasulullah pernah mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz ra tatkala beliau melihat bekas kerja pada tangan Mu’adz. Seraya beliau bersabda: “(Ini adalah) dua tangan yang dicintai Allah Ta’ala”.

Dari Nu’man bin Basyir ra diberitakan bahwa Nabi bersabda: “Sebenarnya yang halal itu jelas dan yang haram jelas pula. Di antara yang halal dan haram itu ada yang syubhat (tidak jelas), banyak orang tak mengetahuinya. Siapa yang menghindar dari syubhat, dia telah memelihara agama dan kehormatannya. Siapa yang terkena syubhat, maka dia terkena yang haram…” (HR Muslim)

Dari hadits di atas serta kesimpang-siuran status jual-beli saham di pasar sekunder, jelaslah bahwa jual-beli saham itu jika tidak haram, dia adalah syubhat, karena itulah orang berbeda pendapat. Meninggalkan hal syubhat itu lebih utama ketimbang mengerjakannya, apalagi jika bahayanya lebih besar dari manfaatnya.

Referensi :
- An-Nabhani, Taqiyuddin, an-Nizham al-Iqtishadi fi Al-Islam, (Beirut : Darul Ummah), Cetakan VI, 2004
- Syahatah, Husein & Fayyadh, Athiyah, Bursa Efek : Tuntunan Islam dalam Transaksi di Pasar Modal (Adh-Dhawabit Al-Syar'iyah li At-Ta'amul fii Suuq Al-Awraq Al-Maliyah), Penerjemah A. Syakur, (Surabaya : Pustaka Progressif), 2004
- As-Salus, Ali Ahmad, Mausu'ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu'ashirah wa al-Iqtishad al-Islami, (Qatar : Daruts Tsaqafah), 2006
- Hasan, M. Ali, Masail Fiqhiyah : Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga Keuangan, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada), 1996
- Junaedi, Pasar Modal Dalam Pandangan Hukum Islam, (Jakarta : Kalam Mulia), 1990
- As-Sabatin, Yusuf Ahmad Mahmud, Al-Buyu’ Al-Qadimah wa al-Mu’ashirah wa Al-Burshat al-Mahalliyyah wa Ad-Duwaliyyah, (Beirut : Darul Bayariq), 2002
- al-Jawi ,KH. M. Shiddiq, Jual Beli Saham Dalam Pandangan Islam, http://www. The house of Khilafah1924_org, 09 Maret 2008
- Siahaan, Hinsa Pardomuan & Manurung, Adler Haymans, Aktiva Derivatif : Pasar Uang, Pasar Modal, Pasar Komoditi, dan Indeks (Jakarta : Elex Media Komputindo), 2006

Riba Dalam Islam

Istilah dan persepsi mengenai riba begitu hidupnya di dunia Islam. Oleh karenanya, terkesan seolah-olah doktrin riba adalah khas Islam. Orang sering lupa bahwa hukum larangan riba, sebagaimana dikatakan oleh seorang Muslim Amerika, Cyril Glasse, dalam buku ensiklopedinya, tidak diberlakukan di negeri Islam modern manapun. Sementara itu, kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa di dunia Kristenpun, selama satu milenium, riba adalab barang terlarang dalam pandangan theolog, cendekiawan maupun menurut undang-undang yang ada.
Riba Dalam Islam

Di sisi lain, kita dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa praktek riba yang merambah ke berbagai negara ini sulit diberantas, sehingga berbagai penguasa terpaksa dilakukan pengaturan dan pembatasan terhadap bisnis pembungaan uang. Perdebatan panjang di kalangan ahli fikih tentang riba belum menemukan titik temu. Sebab mereka masing-masing memiliki alasan yang kuat. Akhirnya timbul berbagai pendapat yang bermacam-macam tentang bunga dan riba.

Pengertian Riba
Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari rabaa yarbuu, yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif. Asal arti kata riba adalah ziyadah ‘tambahan’; adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri, seperti firman Allah swt:

(ihtazzat wa rabat) “maka hiduplah bumi itu dan suburlah.” (QS Al-Hajj: 5).
Dan, adakalanya lagi tambahan itu berasal dari luar berupa imbalan, seperti satu dirham ditukar dengan dua dirham.

Hukum Riba
Riba, hukumnya berdasar Kitabullah, sunnah Rasul-Nya dan ijma’ umat Islam:

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka permaklumkanlah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kami tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al-Baqarah: 278-279).

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS Al-Baqarah: 275).

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah.” (QS Al-Baqarah: 276).

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Jawab Beliau, “(Pertama) melakukan kemusyrikan kepada Allah, (kedua) sihir, (ketiga) membunuh jiwa yang telah haramkan kecuali dengan cara yang haq, (keempat) makan riba, (kelima) makan harta anak yatim, (keenam) melarikan diri pada hari pertemuan dua pasukan, dan (ketujuh) menuduh berzina perempuan baik-baik yang tidak tahu menahu tentang urusan ini dan beriman kepada Allah.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari V: 393 no: 2766, Muslim I: 92 no: 89, ‘Aunul Ma’bud VIII: 77 no: 2857 dan Nasa’i VI: 257).

Dari Jabir ra, ia berkata. “Rasulullah saw melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama.” (Shahih: Mukhtasar Muslim no: 955, Shahihul Jami’us Shaghir no: 5090 dan Muslim III: 1219 no: 1598).

Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw bersabda, “Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3539 dan Mustadrak Hakim II: 37).

Dari Abdullah bin Hanzhalah ra dari Nabi saw bersabda, “Satu Dirham yang riba dimakan seseorang padahal ia tahu, adalah lebih berat daripada tiga puluh enam pelacur.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3375 dan al-Fathur Rabbani XV: 69 no: 230).

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi saw, Beliau bersabda, “Tak seorang pun memperbanyak (harta kekayaannya) dari hasil riba, melainkan pasti akibat akhirnya ia jatuh miskin.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5518 dan Ibnu Majah II: 765 no: 2279).

Klasifikasi Riba
Riba ada dua macam yaitu riba nasiah dan riba fadhl.
Adapun yang dimaksud riba nasiah ialah tambahan yang sudah ditentukan di awal transaksi, yang diambil oleh si pemberi pinjaman dari orang yang menerima pinjaman sebagai imbalan dari pelunasan bertempo. Riba model ini diharamkan oleh Kitabullah, sunnah Rasul-Nya, dan ijma’ umat Islam.

Sedangkan yang dimaksud riba fadhl adalah tukar menukar barang yang sejenis dengan ada tambahan, misalnya tukar menukar uang dengan uang, menu makanan dengan makanan yang disertai dengan adanya tambahan.

Riba model kedua ini diharamkan juga oleh sunnah Nabi saw dan ijma’ kaum Muslimin, karena ia merupakan pintu menuju riba nasiah.

Beberapa Barang yang padanya Diharamkan Melakukan Riba
Riba tidak berlaku, kecuali pada enam jenis barang yang sudah ditegaskan nash-nash syar’i berikut:

Dari Ubaidah bin Shamir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “(Boleh menjual emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir (sejenis gandum) dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sebanding, sama dan tunai, tetapi jika berbeda jenis, maka juallah sesukamu, apabila tunai dengan tunai.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 949, dan Muslim III: 1211 no: 81 dan 1587).

Dengan demikian, apabila terjadi barter barang yang sejenis dari empat jenis barang ini, yaitu emas ditukar dengan emas, tamar dengan tamar, maka haram tambahannya baik secara riba fadhl maupun secara riba nasiah, harus sama baik dalam hal timbangan maupun takarannya, tanpa memperhatikan kualitasnya bermutu atau jelek, dan harus diserahterimakan dalam majlis.

Dari Abi Sa’id al-Khudri ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu menjual emas kecuali sama, janganlah kamu tambah sebagiannya atas sebagian yang lain, janganlah kamu menjual perak dengan perak kecuali sama, janganlah kamu tambah sebagiannya atas sebagian yang lain, dan janganlah kamu menjual emas dan perak yang barang-barangnya belum ada dengan kontan.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 379 no: 2177, Muslim III: 1208 no: 1584, Nasa’i VII: 278 dan Tirmidzi II: 355 no: 1259 sema’na).

Dari Umar bin Khattab ra bahwa Rasulullah saw bersabda. “Emas dengan emas adalah riba kecuali begini dengan begini (satu pihak mengambil barang, sedang yang lain menyerahkan) bur dengan bur (juga) riba kecuali begini dengan begini, sya’ir dengan sya’ir riba kecuali begini dengan begini, dan tamar dengan tamar adalah riba kecuali begini dengan begini.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bahri IV: 347 no: 2134, dan lafadz ini bagi Imam Bukhari, Muslim III: 1209 no: 1586, Tirmidzi II: 357 no: 1261, Nasa’i VII: 273 dan bagi mereka lafadz pertama memakai adz-dzahabu bil wariq (emas dengan perak) dan Aunul Ma’bud IX: 197 no: 3332 dengan dua model lafadz).

Dari Abu Sa’id ra, ia bertutur: Kami pada masa Rasulullah saw pernah mendapat rizki berupa tamar jama’, yaitu satu jenis tamar, kemudian kami menukar dua sha’ tamar dengan satu sha’ tamar. Lalu kasus ini sampai kepada Rasulullah saw maka Beliau bersabda, “Tidak sah (pertukaran) dua sha’ tamar dengan satu sha’ tamar, tidak sah (pula) dua sha’ biji gandum dengan satu sha’ biji gandum, dan tidak sah (juga) satu Dirham dengan dua Dirham.” (Muttafaqun ’alaih: Muslim III: 1216 no: 1595 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IV: 311 no: 2080 secara ringkas dan Nasa’i VII: 272).

Manakala terjadi barter di antara enam jenis barang ini dengan lain jenis, seperti emas ditukar dengan perak, bur dengan sya’ir, maka boleh ada kelebihan dengan syarat harus diserahterimakan di majlis:
Berdasar hadits Ubadah tadi:

…tetapi jika berlainan jenis maka juallah sesukamu, apabila tunai dengan tunai.”
Dalam riwayat Imam Abu Daud dan lainnya dari Ubadah ra Nabi saw bersabda: “Tidak mengapa menjual emas dengan perak dan peraknya lebih besar jumlahnya daripada emasnya secara kontan, dan adapun secara kredit, maka tidak boleh; dan tidak mengapa menjual bur dengan sya’ir dan sya’irnya lebih banyak daripada burnya secara kontan dan adapun secara kredit, maka tidak boleh.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 195 dan ‘Aunul Ma’bud IX: 198 no: 3333).

Apabila salah satu jenis di antara enam jenis ini ditukar dengan barang yang berlain jenis dan ‘illah ‘sebab’, seperti emas ditukar dengan bur, atau perak dengan garam, maka boleh ada kelebihan atau secara bertempo, kredit:
Dari Aisyah ra bahwa Nabi saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi secara bertempo, sedangkan Nabi saw menggadaikan sebuah baju besinya kepada Yahudi itu. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1393 dan Fathul Bari IV: 399 no: 2200).

Dalam kitab Subulus Salam III: 38, al-Amir ash-Sha’ani menyatakan. “Ketahuilah bahwa para ulama’ telah sepakat atas bolehnya barang ribawi (barang yang bisa ditakar atau ditimbang, edt) ditukar dengan barang ribawi yang berlainan jenis, baik secara bertempo meskipun ada kelebihan jumlah atau berbeda beratnya, misalnya emas ditukar dengan hinthah (gandum), perak dengan gandum, dan lain sebagainya yang termasuk barang yang bisa ditakar.”

Namun, tidak boleh menjual ruthab (kurma basah) dengan kurma kering, kecuali para pemilik ‘ariyah, karena mereka adalah orang-orang yang faqir yang tidak mempunyai pohon kurma, yaitu mereka boleh membeli kurma basah dari petani kurma, kemudian mereka makan dalam keadaan masih berada di pohonnya, yang mereka taksir, mereka menukarnya dengan kurma kering.

Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rasulullah saw melarang muzabanah. Muzabanah ialah menjual buah-buahan dengan tamar secara takaran, dan menjual anggur dengan kismis secara takaran. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 384 no: 2185, Muslim III: 1171 no: 1542 dan Nasa’i VII: 266)

Dari Zaid bin Tsabit ra bahwa Rasulullah saw memberi kelonggaran kepada pemilik ‘ariyyah agar menjualnya dengan tamar secara taksiran. (Muttafaqun‘alaih: Muslim III: 1169 no: 60 dan 1539 dan lafadz ini baginya dan sema’na dalam Fathul Bari IV: 390 no: 2192, ‘Aunul Ma’bud IX: 216 no: 3346, Nasa’i VII: 267, Tirmidzi II: 383 no: 1218 dan Ibnu Majah II: 762 no: 2269).
Sesungguhnya Nabi saw melarang menjual kurma basah dengan tamar hanyalah karena kurma basah kalau kering pasti menyusut.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra bahwa Nabi saw pernah ditanya perihal menjual kurma basah dengan tamar. Maka Beliau (balik) bertanya, “Apakah kurma basah itu menyusut apabila telah kering?” Jawab para sahabat, “Ya, menyusut.” Maka Beliaupun melarangnya. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1352, ‘Aunul Ma’bud IX: 211 no: 3343, Ibnu Majah II: 761 no: 2264, Nasa’i VII: 269 dan Tirmidzi II: 348 no: 1243).

Dan, tidak sah jual beli barang ribawi dengan yang sejenisnya sementara keduanya atau salah satunya mengandung unsur lain.

Riwayat Fadhalah bin Ubaid yang menjadi landasan kesimpulan ini dimuat juga dalam Mukhtashar Nailul Authar hadits no: 2904. Imam Asy-Syaukani, memberi komentar sebagai berikut, “Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh menjual emas yang mengandung unsur lainnya dengan emas murni hingga unsur lain itu dipisahkan agar diketahui ukuran emasnya, demikian juga perak dan semua jenis barang ribawi lainnya, karena ada kesamaan illat, yaitu haram menjual satu jenis barang dengan sejenisnya secara berlebih.”

Dari Fadhalah bin Ubaid ia berkata: “Pada waktu perang Khaibar aku pernah membeli sebuah kalung seharga dua belas Dinar sedang dalam perhiasan itu ada emas dan permata, kemudian aku pisahkan, lalu kudapatkan padanya lebih dari dua belas Dinar, kemudian hal itu kusampaikan kepada Nabi saw, Maka Beliau bersabda, ‘Kalung itu tidak boleh dijual hingga dipisahkan.’” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1356, Muslim III: 1213 no: 90 dan 1591, Tirmidzi II: 363 no: 1273, ‘Aunul Ma’bud IX: 202 no: 3336 dan Nasa’i VII: 279).

Islam bersikap sangat keras dalam persoalan riba semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlak, masyarakat maupun perekonomiannya.Kiranya cukup untuk mengetahui hikmahnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsir Qurannya sebagai berikut:

1. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti. Sebab orang yang meminjamkan uang 1 dirham dengan 2 dirham, misalnya, maka dia dapat tambahan satu dirham tanpa imbalan ganti. Sedang harta orang lain itu merupakan standard hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar, seperti apa yang disebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

2. "Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya."Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti, sudah pasti haramnya.

3. Bergantung kepada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan memudahkan persoalan mencari penghidupan, sehingga hampir-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Sedang hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat. Satu hal yang tidak dapat disangkal lagi bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.(Tidak diragukan lagi, bahwa hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian).

4. Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma'ruf) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam. Sebab kalau riba itu diharamkan, maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka sudah pasti kebutuhan orang akan menganggap berat dengan diambilnya uang satu dirham dengan diharuskannya mengembalikan dua dirham. Justru itu, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan. (Ini suatu alasan yang dapat diterima, dipandang dari segi etika).

5. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Sedang tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah. (Ini ditinjau dari segi sosial).

Ini semua dapat diartikan, bahwa dalam riba terdapat unsur pemerasan terhadap orang yang lemah demi kepentingan orang kuat (exploitasion de l'home par l'hom) dengan suatu kesimpulan: yang kaya bertambah kaya, sedang yang miskin tetap miskin. Hal mana akan mengarah kepada membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain, yang memungkinkan akan menimbulkan golongan sakit hati dan pendengki; dan akan berakibat berkobarnya api pertentangan di antara anggota masyarakat serta membawa kepada pemberontakan oleh golongan ekstrimis dan kaum subversi.

‘ARIYAH ( Pinjam-meminjam )

Sebagai manusia kita tidak akan pernah dipisahkan dengan yang namanya pinjam-meminjam atau ‘ariyah. Karena kita bahwa semua yang kita butuhkan itu tidak semuanya kita memilikinya. Oleh karena itulah maka adanya pinjam-meminjam atau ‘ariyah. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan rukun, syarat, dan dalil-dalil yang membahas mengenai ‘ariyah atau pinjam-meminjam.
‘ARIYAH  ( Pinjam-meminjam )

Menurut Bahasa ‘ariyah adalah memberi manfaat tanpa imbalan. Sedangkan ‘ariyah menurut syara’ ialah memberikan manfaat dari sesuatu yang halal dimanfaatkan kepada orang lain, dengan tidak merusakkan zatnya, agar zat barang itu nantinya bisa dikembalikan lagi kepada yang mempunyai. Tiap-tiap yang mungkin diambil manfaatnya dengan tidak merusakkan zat barang itu, boleh dipinjam atau dipinjamkan.

‘Ariyah disyariatkan berdasarkan dalil-dalil berikut :
- Firman Allah Ta’ala
Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan taqwa kepada Allah dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan bermusuhan.” (Al Maidah : 2)

- Firman Allah Ta’ala
Dan enggan(menolong dengan) barang berguna.” (Al Ma’un : 7)

- Sabda Rosulullah SAW
Pinjaman wajib dikembalikan dan orang yang menjamin sesuatu harus membayar” (riwayat Abu Daud dan Tirmidzi)

Hukum ‘Ariyah
Hukum ‘ariyah adalah sunnah berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat Al Maidah ayat 2, akan tetapi bisa jadi ‘ariyah itu hukumnya menjadi wajib, misalnya meminjamkan pisau untuk menyembelih binatang yang hampir mati. Dan hukumnya bisa haram apabila barang yang dipinjam itu digunakan untuk sesuatu yang haram atau dilarang oleh agama. Karena jalan menuju sesuatu, hukumnya sama dengan hukum yang dituju.

Diantara hukum-hukum ‘ariyah adalah sebagai berikut :

1. Sesuatu yang dipinjamkan harus sesuatu yang mubah(diperbolehkan). Jadi seseorang tidak boleh meminjamkan budak wanita kepada orang lain untuk digauli atau seseorang tidak boleh meminjamkan orang muslim untuk melayani orang kafir atau meminjamkan parfum haram atau pakaian yang diharamkan, karena Allah Ta’ala berfirman :
“Dan jangan kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah:2)

2. Jika mu’ir (pihak yang meminjamkan) mengisyaratkan bahwa musta’ir (peminjam) berkewajiban mengganti barang yang dipinjam jika dia merusak barang yang dipinjam, maka musta’ir wajib menggantinya, karena Rosulullah SAW bersabda :

Kaum muslimin itu berdasarkan syarat-syarat mereka.”(riwayat Abu Daud dan Al Hakim)

Jika mu’ir tidak mengisyaratkan, kemudian barang pinjaman rusak bukan karena kesalahan musta’ir atau tidak karena disengaja, maka musta’ir tidak wajib mengganti, hanya saja dia disunnahkan untuk menggantinya, karena Rosulullah SAW bersabda kepada salah seorang istrinya yang telah memecahkan salah Satu tempat makanan.

makanan dengan makanan dan tempat dengan tempat.” (diriwayatkan Al Bukhari).

Namun jika kerusakannya hanya sedikit disebabkan karena dipakai dengan izin tidaklah patut diganti, karena terjadinya sebab pemakaian yang diizinkan.(ridlo kepada sesuatu berarti ridlo pula kepada akibatnya).

Jika barang pinjaman mengalami kerusakan karena kesalahan dan disengaja oleh musta’ir, dia wajib menggantinya dengan barang yang sama atau dengan uang seharga barang pinjaman tersebut, karena Rosulullah SAW bersabda :

Tangan berkewajiban atas apa yang diambilnya hingga ia menunaikannya.” (Diriwayatkan Abu Daud, At Tirmidzi dan Al Hakim yang men-shahih-kannya).

3. Musta’in (peminjam) harus menanggung biaya pengangkutan barang pinjaman ketika ia mengembalikannya kepada mu’ir jika barang pinjaman tersebut tidak bisa diangkut kecuali oleh kuli pengangkut atau dengan taksi.
Rosulullah bersabda :

Tangan berkewajiban atas apa yang diambilnya hingga ia menunaikannya.”(diriwayatkan Abu Daud, At Tarmidzi dan Al Hakim)

4. Musta’in tidak boleh menyewakan barang yang dipinjamnya. Adapun meminjamkannya kepada orang lain dibolehkan, dengan syarat mu’in merelakannya.

5. Pada tiap-tiap waktu, yang meminjam ataupun yang meminjamkan boleh memutuskan aqad asal tidak merugikan kepada salah seorang di antara keduanya. Jika seseorang meminjamkan kebun untuk dibuat tembok, ia tidak boleh meminta pengembalian kebun tersebut hingga tembok tersebut roboh. Begitu juga orang yang meminjamkan sawah untuk ditanami, ia tidak boleh meminta pengembalian sawah tersebut hingga tanaman yang ditanam diatas sawah tersebut telah dipanen, karena menimbulkan mudharat kepada seorang muslim itu haram.

6. Barang siapa meminjamkan sesuatu hingga waktu tertentu, dia disunahkan tidak meminta pengembaliannya kecuali setelah habisnya batas waktu peminjaman.

Rukun Meminjamkan :

1. Ada yang meminjamkan, syaratnya yaitu :
a. Ahli (berhak) berbuat kebaikan sekehendaknya. Anak kecil dan orang yang dipaksa, tidak sah meminjamkan.
b. Manfaat barang yang dipinjamkan dimiliki oleh yang meminjamkan, sekalipun dengan jalan wakaf atau menyewa karena meminjam hanya bersangkutan dengan manfaat, bukan bersangkutan dengan zat. Oleh karena itu, orang yang meminjam tidak boleh meminjamkan barang yang dipinjamnya karena manfaat barang yang dipinjamnya bukan miliknya. Dia hanya diizinkan mengambilnya tetapi membagikan manfaat yang boleh diambilnya kepada yang lain, tidak ada halangan. Misalnya dia meminjam rumah selama 1 bulan tetapi hanya ditempati selama 15 hari, maka sisanya boleh diberikan kepada orang lain.

2. Ada yang meminjam, hendaklah seorang yang ahli (berhak) menerima kebaikan. Anak kecil dan orang gila tidak sah meminjam sesuatu karena ia tidak ahli (tidak berhak) menerima kebaikan.

3. Ada barang yang dipinjam, syaratnya :
a. Barang yang benar-benar ada manfaatnya
b. Sewaktu diambil manfaatnya, zatnya tetap (tidak rusak).
4. Ada lafadz. Menurut sebagian orang sah dangan tidak berlafadz.

Syarat Sahnya ‘Ariyah :

Untuk sahnya ‘ariyah ada empat syarat yang wajib dipenuhi :
1. Pemberi pinjaman hendaknya orang yang layak berbaik hati. Oleh karena itu, ‘ariyah yang dilakukan oleh orang yang sedang ditahan hartanya tidak sah.

2. Manfaat dari barang yang dipinjamkan itu hendaklah milik dari yang meminjamkan. Artinya, sekalipun orang itu tidak memiliki barang, hanya memiliki manfaatnya saja, dia boleh meminjamkannya, karena meminjam hanya bersangkut dengan manfaat, bukan bersangkut dengan zat.

3. Barang yang dipinjamkan hendaklah ada manfaatnya. Maka tidak sah meminjamkan barang yang tidak berguna. Karena sia-sia saja tujuan peminjaman itu.

4. Barang pinjaman harus tetap utuh, tidak boleh rusak setelah diambil manfaatnya, seperti kendaraan, pakaian maupun alat-alat lainnya. Maka tidak sah meminjamkan barang-barang konsumtip, karena barang itu sendiri akan tidak utuh, seperti meminjamkan makanan, lilin dan lainnya. Karena pemanfaatan barang-barang konsumtip ini justru terletak dalam menghabiskannya. Padahal syarat sahnya ‘ariyah hendaklah barang itu sendiri tetap utuh.

PSIKOLOGI ISLAM DALAM TINGKAH LAKU

Tingkah laku pada umumnya ialah berorientasi pada eksperimen dan menyadari perbedaan akan adanya pengaruh factor kebudayaan dalam pembentukan tingkah laku.Untuk mendapatkan tingkah laku yang sempurna dalam tatanan psikologi islam. Subjek harus terlebih dahulu mengenal ”kesadaran diri” dalam diri subjek itu tersebut. Kesadaran diri tersebut dapat diartikan dengan mengenal diri,paham diri,dan juga insaf.
PSIKOLOGI  ISLAM  DALAM  TINGKAH  LAKU

Sedangkan pengertian kesadaran diri dalam psikologi adalah dengan akal budi yang dimiliki, manusia mengetahui apa yang dilakukan dan mengapa ia melakukannya. Sedangkan Soemarno Soedarsono, menjelaskan bahwa kesadaran diri merupakan upaya perwujudan jati diri pibadi. Tinjauan tentang kesadaran diridikaji melalui suatu aliran psikologi yang dinamakan psikoanalisis, yaitu aliran psikologi yang menekankan analisis struktur kejiwaan manusia yang relative stabil dan menetap.Dalam buku “nuansa-nuansa Psikologi Islam”, Abdul Mujib dan Jusup Mudzakir memaparkan ciri utama aliran psikoanalisis, yaitu:


  1. Penentuan aktivitas manusia yang didasarkan pada struktur jiwa yang terdiri atas id, ego, dan super ego.
  2. Memiliki prinsip bahwa penggerak utama struktur manusia adalah libido, sedang libido yang terkuat adalah libido seksual.
  3. Membagi tingkat kesadaran manusia atas tiga alam; yaitu alam pra-sadar (the preconscious), alam bawah sadar (the unconscious), dan alam sadar (the conscious).

Dalam upaya mengembangkan diri manusia harus menggunakan akal, perasaan, kehendak pribadi,dan memanfaatkan seluruh unsur jasmani dan rohaninya demi mencapai tingkat yang stabil dan kuat. Artinya, manusia melaksanakan dorongan-dorongan positif, dan sebaliknya menolak yang negatif,demi tercapainya suatu tahapan. Kondisi seperti itulah yang bias dikatakan bahwa manusia telah berhasil menjadi dirinya.

Keinginan manusia untuk mencapai aktualisasi diri,sering kali dikaitkan dengan realitas disekitarnya. Kecenderungan manusia untuk merubah merupakan suatu proses pembentukan kepribadian atau karakter. Pada dasarnya pembentukan kepribadian adalah suatu proses pembentukan tingkah laku seseorang. Hal itu akan menampilkan sikap dan perilaku yang berbeda. Dari proses pencapain kebutuhan ini, muncul beberapa kesalahan pemahan (persepsi) tentang kesadaran diri.Dengan kata lain,manusia hanya mengacu pada perkembangan wacana ataupun mode di masyarakat untuk memanipulasi dirinya menjadi serupa dengan sosok yang diinginkan. Dalam hal ini, unsur yang tidak terpenuhi dalam konsep kesadaran diri adalah unsur mengenal terhadap diri.

Asumsi yang berkembang dan membudaya di masyarakat adalah berwujud wacana yang berkata bahwa memiliki kesadaran diri berarti seseorng mampu melakukan sesuatu yang diyakini benar dan sesuai dengan perencanan yang dibuat sebelumnya. Dengan demikian, komdisi ini dimaknai dengan sebuah komitmen dan konsistensi atau sesuatu yang telah direncanakan. Dalam upaya mengembangkan diri, manusia harus menggunakan akal, perasaan, kehendak pribadi, dan memanfaatkan seluruh unsur jasmani dan rohaninya demi mencapai tingkat yang stabil dan kuat. Artinya, manusia melaksanakan dorongan-dorongan positif, dan sebaliknya menolak yang negatif, demi tercapainya suatu tahapan. Kondisi seperti itulah yang biasa dikatakan manusia telah berhasil menjadi dirinya sendiri.

Sedangkan dalam perspektif Islam, M.Ali Shomali menyebutkan bahwa pengenalan terhadap diri (kesadan diri) itu berurusan wujud diri dan kondisi fisik manusia. Kesadaran diri tidak berurusan dengan pengertian fisik,melainkan berurusan dengan dimensi rohani dari kehidupan.Dari sudut pandang Islam, ada sebuah gambaran berupa desakan bagi manusia (khususnya umat Islam) untuk tidak hanya menfokuskan diri pada jiwa (rohani) dengan mengesampingkan dunia fisik yang material; dan sebaliknya, tidak hanya berfikir dunia material, tanpa mengimbanginya dengan pemenuhan kebutuhan jiwa.

Dalam upaya menelusuri seluruh unsur dalam diri manusia, maka perlu dipahami terlebih dahulu bahwa manusia dapat ditelaah melalui berbagai saluran. Saluran pertama,manusia dianggap sebagai makhluk sadar di dunia. Sudut pandang ini bertujuan untuk menerangkan manusia sebagai makhluk yang dinamis. Saluran kedua,manusia dianggap sebagai pribadi yang tinggal di antara makhluk dunia yang lain. Sudut pandang ini mengarah pada suatu garis pikiran dimana manusia diterangkan sebagai bagian dari suatu evolusi semesta alam yang memainkan peranannya sendiri.

Dalam kesadaran diri, manusia dihadapkan pada dua sisi yang saling bertolak belakang, yakni mengenal kekuatan yang dimiliki dan mengetahui kelemahan yang ada pada diri. Diantara keduanya terdapat suatu sinergi, yaitu apabila suatu pribadi dapat menggunakan secara proporsional dan optimal, maka puncak keberhasilan pribadi akan mungkin dapat dicapai.

Kesadaran diri adalah alat control kehidupan untuk mencapai tingkah laku yang sempurna dalam psikologi islam. Dan pemahaman baru tentang hakikat keberadan manusia, bahwa keadaan fisik dan keadaan empiris tidak dapat dijadikan sebagai acuan dalam menentukan derajat keagaman (spiritual) manusia. Tingkah laku yang sempurna tidak lepas dari kesadaran manusia sendiri.